ShoutMix chat widget

Mau Invo Lainnya?
Click aja disini---> Invo 1t1 abu jundan

Click here for Myspace Layouts

Mabda

⊆ Minggu, Juli 05, 2009 by Abu Jundan | , , , , , . | ˜ 1 komentar »


Mabda adalah suatu aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud aqidah adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup, serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan Zat yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia ini. Sedangkan peraturan yang lahir dari aqidah ini tidak lain berfungsi untuk memecahkan dan mengatasi berbagai problematika hidup manusia, menjelaskan bagaimana cara pelaksanaan pemecahannya, memelihara aqidah serta untuk mengemban mabda. Penjelasan tentang cara pelaksanaan, pemeliharaan aqidah, dan penyebaran risalah dakwah inilah yang dinamakan thariqah. Selain dari itu --yaitu aqidah dan berbagai pemecahan masalah hidup-- dinamakan fikrah. Jadi mabda mencakup dua bagian, yaitu fikrah dan thariqah.
Mabda haruslah muncul di benak seseorang, baik melalui wahyu Allah yang diperintahkan untuk mendakwahkannya atau dari kejeniusan yang nampak pada diri orang itu.
Mabda yang tumbuh dalam benak manusia melalui wahyu Allah adalah mabda yang benar. Karena bersumber dari Al-Khaliq, yaitu Pencipta alam, manusia, dan hidup, yakni Allah SWT. Mabda ini pasti kebenarannya (qath'i). Sedangkan mabda yang tumbuh dalam benak manusia karena kejeniusan yang nampak pada dirinya adalah mabda yang salah (bathil). Karena berasal dari akal manusia yang terbatas, yang tidak mampu menjangkau segala sesuatu yang nyata. Juga karena pemahaman manusia terhadap proses lahirnya peraturan selalu menimbulkan perbedaan, perselisihan, dan pertentangan, serta selalu terpengaruh lingkungan dimana ia hidup di dalamnya. Sehingga membuahkan peraturan yang saling bertentangan, yang mendatangkan kesengsaraan bagi manusia. Oleh karena itu, mabda yang muncul dari benak seseorang adalah mabda yang salah, baik dilihat dari segi aqidahnya maupun peraturan yang lahir dari aqidah tersebut.
Atas dasar inilah asas suatu mabda (ideologi) adalah suatu ide dasar yang menyeluruh mengenai alam semesta, manusia, dan hidup. Sedangkan keberadaan thariqah (pola operasional) --yang membuat mabda ini terwujud dan terlaksana dalam kehidupan-- adalah suatu keharusan dan kebutuhan dasar bagi ide itu sendiri agar mabda itu terwujud.
Adapun ide dasar yang menyeluruh menjadi asas, karena ide dasar tersebut merupakan aqidah bagi mabda yang menjadi landasan ideologi (qaidah fikriyah), sekaligus sebagai kepemimpinan berfikir/ideologi (qiyadah fikriyah). Dengan landasan ini dapatlah ditentukan arah pemikiran manusia dan atau pandangan hidupnya. Dengan landasan itu pula dapat dibangun seluruh pemikiran dan dapat dilahirkan seluruh pemecahan problema kehidupan.
Akan halnya thariqah sebagai suatu keharusan, karena peraturan yang lahir dari aqidah itu bila tidak memuat penjelasan-penjelasan; tentang bagaimana cara melaksanakan pemecahan, bagaimana cara memelihara/melindungi aqidah, bagaimana cara mengemban dakwah untuk menyebarluaskan mabda, maka ide dasar ini hanya akan menjadi suatu bentuk filsafat yang bersifat khayalan dan dugaan belaka, serta hanya tercantum dalam lembaran-lembaran buku, tanpa dapat mempengaruhi kehidupan. Oleh karena itu untuk dapat menjadi sebuah mabda, di samping harus ada aqidah, maka harus ada pula thariqah atau cara pelaksanaannya.
Hanya saja, dengan sekedar terdapatnya ide dan thariqah pada suatu aqidah yang memancarkan peraturan, tidak berarti bahwa mabda itu pasti benar, Akan tetapi hanya menunjukkan bahwa itu sekedar suatu mabda. Yang menjadi indikasi benar atau salahnya suatu mabda adalah aqidah mabda itu sendiri, apakah benar atau salah. Sebab, kedudukan aqidah ini adalah sebagai qaidah fikriyah, yang menjadi asas bagi setiap pemikiran yang muncul. Aqidah jugalah yang menentukan pandangan hidup dan yang melahirkan setiap pemecahan problema hidup serta pelaksanaannya (thariqah). Jika qaidah fikriyah-nya benar, maka mabda itu benar. Sebaliknya, jika qaidah fikriyah-nya salah, maka mabda itu dengan sendirinya salah dari akarnya.
Qaidah fikriyah ini apabila sesuai dengan fitrah manusia dan dibangun berlandaskan akal, maka berarti termasuk kaidah yang benar. Sebaliknya, jika bertentangan dengan fitrah manusia atau tidak dibangun berlandaskan akal yang sehat, maka kaidah itu bathil adanya. Sedangkan yang dimaksud qaidah fikriyah yang sesuai dengan fitrah manusia adalah pengakuannya terhadap apa yang ada dalam fitrah manusia, yaitu kelemahan dan kebutuhan dirinya pada Yang Maha Pencipta, Pengatur segalanya. Dengan kata lain, bahwa qaidah fikriyah itu sesuai dengan naluri beragama (gharizah tadayyun). Sedangkan yang dimaksud qaidah fikriyah dibangun di atas dasar akal yang sehat adalah bahwa kaidah ini tidak berlandaskan materi ataupun sikap mengambil jalan tengah.
Apabila kita telusuri seluruh dunia ini, maka yang kita dapati hanya ada tiga mabda (ideologi). Yaitu Kapitalisme, Sosialisme termasuk Komunisme, dan Islam. Dua mabda pertama, masing-masing diemban oleh satu atau beberapa negara. Sedangkan mabda yang ketiga yaitu Islam, tidak diemban oleh satu negarapun, melainkan diemban oleh individu-individu dalam masyarakat. Sekalipun demikian, mabda ini tetap ada di seluruh penjuru dunia.
Selanjutnya kalo mau baca terus - Mabda


Pidato Obama Tidak Menutupi Kekejaman Amerika Terhadap Dunia Islam

⊆ Senin, Juni 08, 2009 by Abu Jundan | ˜ 1 komentar »

Ketika Sang Penjajah Napoleon Bonaparte menduduki Mesir sebagai bagian dari upaya penjajahan untuk menguasai dunia mengatakan kepada rakyat : “ Kalian akan diberitahu bahwa saya datang untuk menghancurkan agama kamu; jangan percaya itu…Saya lebih menghargai Tuhan, Nabi dan Al Qur’an bahkan dibanding para raja..” dan banyak kata-kata manis lainnya.

Pidato Obama di Mesir dianggap merupakan sebuah tujuan baru dari kebijakan AS terhadap dunia Islam. Meskipun tambak lebih bersikap positif terhadap dunia Islam, akan tetapi kebijakan Amerika dibawah Obama sama kejamnya dengan pemerintah Bush. Tidak seperti Bush yang mengumbar kata-kata kebencian, Obama menggunakan istilah ‘soft power’ dan penampilan personal yang menarik untuk menutupi tujuannya. Daripada beretorika,mari kita lihat fakta-fakta berikut ini :

Di Pakistan : Pada awal bulan pemerintahannya , pemerintah Obama sukse membuat 3 juta pengungs dengan mendorong rezim korup Zardari melancarkan perang di Swat. Bahkan sebelum memerintah dia telah mendeklarasikan Pakistan sebagai tempat yang paling berbahaya di dunia dan akan membom Islamabad jika dia harus melakukan itu. Seluruh kebijakannya di wilayah ini didorong oleh keinginan untuk menjamin langkah Amerika di Afghanistan dan Pakistan dan memerangi pejuang perlawanan.

Di Palestina: Obama sering mengumbar dia ingin melihat road map (peta jalan) dilaksanakan untuk menjamin berdirinya sebuah Negara Palestina. Terkesan positif memang, karena sepertinya dia menantang politisi Israel yang menentang kebijakan ini. Yang dilupakan dari propaganda road-map ini,apa yang dia sebut dengan Negara Palestina, tidak lebih dari kamp penjara, dimana para penjaganya adalah orang Palestina sendiri, pengganti Israel. Jika para penjaga ini tidak menjaga keamanan Israel berdasarkan yang diinginkan Israel , maka ‘negara’ Palestina akan kembali diserbu.


Dukungan Terhadap Israel : Obama menunjuk Rahm Emanuel, putra seorang teroris Israeli Irgun, sebagai kepala staf Gedung Putih. Emanuel mengatakan Obama tidak membutuhkan pengaruhnya dalam orientasi kebijakannya terhadap Israel. Ini benar, sebab sebelum terpilihpun Obama telah mengatakan : Kita harus memelihara komitmen total kita kepada hubungan pertahanan kita yang unik dengan Israel dengan cara mendanai bantuan militer dengan sepenuhnya dan melanjutkan Arrow dan program misil pertahanan.

Selain itu, lebih dibanding dengan presiden Amerika lainnya dia berkata : “ Jerusalem akan tetap menjadi ibukota Israel secara penuh dan itu tidak bisa dibagi. Responnya ketika Israel mlakukan pembantaian di Gaza : Amerika berpegangteguh bagi keamanan Israel. Dan kita akan terus mendukung hak Israel untuk mempertahankan diri melawan ancaman yang sah “

Penyiksaan Guantanamo : Obama telah berjanji menutup Penjara Guantanamo. Banyak yang berharap penyiksaan pengadilan militer dihentikan. Namun, tahanan Guantanamo tetap dipenjarakan , dipindah ke tempat lain. Dia juga memutuskan melanjutkan pengadilan militer yang controversial.

Meskipun dia telah membuat banyak retorika bahwa CIA telah dilarang melakukan penyiksaan, Obama memutuskan tidak menuntut siapapun yang telah melakukan penyiksaan dimasa lampau dan tidak terikat dengan aturan bukti-bukti penyiksaan di tempat lain.

Dipenjara Tanpa Pengadilan : Pada Mei 2009 Obama tetap mendukung penahanan tanpa pengadilan di Amerika Serikat dengan istilah indefinite detention. Dia juga menggunakan kata-kata yang sering digunakan oleh Bush “ orang yang sangat berbahaya” untuk mereka yang ditahan tanpa bukti. Istilah ini untuk mengunci dan melegalkan penahanan tanpa bukti.

Mendukung Rezim Tiran dan Penguasa Kriminal di dunia Islam :Obama mendukung penguasa tiran dan criminal di negeri-negeri Islam sebagaimana pendahulunya. Dalam wawancara dengan BBC baru-baru ini dia menggambarkan Mubarak – Raja Firaun Mesir yang menyiksa dan mendzolimi penentang-penentangnya- dengan mengatakan : Mubarak merupakan koalisi pendukung yang kuat bagi Amerika Serikat…. Dia telah menjadi kekuatan untuk menjaga stabilitas dan memberikan kebaikan di kawasan Timur Tengah. Obama juga memuji Mubarak yang konsisten mendukung perdamain dengan Israel termasuk memblokade rakyat Gaza untuk mendapat bantuan dan dana kemanusiaan.

Umat Islam tidak boleh tertipu dengan kata-kata Obama. Amerika Serikat adalah Negara Kapitalis. Institusi Negara ini dirancang untuk menjaga dan mempertahankan kekuatan Amerika di seluruh dunia. Meskipun AS harus mengeksploitasi pihak lain dalam prosesnya; Negara ini juga dirancang untuk menghancurkan pesaing-pesaing Amerika di dunia. Meskipun bukan berarti rakyat yang ingin dieksploitasi hidup dibawah penjajahan dan tirani. Jadi siapapun dia, Bush, Obama atau yang lain kepentingan fundamental AS dan kebijakannya tidak akan berubah.

Alasan sebenarnya kenapa Obama bermonuver seperti itu adalah memperbaiki citra Amerika yang baik ekonomi maupun moral sudah bangkrut. Sistem ekonominya demikian rapuh sepert rumah kartu yang bisa bangkrut kapanpun. Meskipun mereka berjanji untuk mencipta kesejahteraan dan meringankan kemiskinan, namun mereka membuat kemiskinan yang jumlahnya miliran. Sistem politik, demokrasi, dan HAM yang mereka kampanyekan sebagai ide yang superior adalah dusta. Dimana mereka membunuh, memenjarakan, dan menyiksa manusia tanpa perikemanusiaan.

Apa yang Obama coba lakukan adalah usaha putus asa untuk menghentikan munculnya system alternatif di dunia Islam. CIA memprediksi salah satu skenario dunia 2020 adalah kemunculan kembali Khilafah Islam. Negeri Adidaya baru ini bukan lah Negara teror seperti Negara Paman Sam, tetapi Negara yang menghentikan penjajahan dan membawa stabilitas dan keamanan di dunia Islam.

Negara Khilafah ini akan membawa system ekonomi agung yang menghentikan kemiskinan dan membawa keadilan di dunia. Negara ini akan menerapkan syariah Allah SWT dan Sunnah Rosululah saw kepada seluruh rakyatnya.

Apa yang dibutuhkan umat Islam sekarang adalah berkerja keras bersama-sama mengikuti sunnah Rosulullah SAW untuk menggantikan penguasa korup dan dzolim yang dikontrol Barat untuk menegakkan kembali kepemimpinan untuk seluruh umat Islam yakni Negara Khilafah.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

(sumber : Hizb ut-Tahrir Britain 11 Jumada al-Thani 1430 / 4 June 2009 )

Selanjutnya kalo mau baca terus - Pidato Obama Tidak Menutupi Kekejaman Amerika Terhadap Dunia Islam


Haram Memilih Pemimpin Sekular (Cover)

⊆ Senin, Juni 08, 2009 by Abu Jundan | ˜ 0 komentar »


Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Pembaca yang budiman, sadar atau tidak, dalam berpolitik saat ini masyarakat yang mayoritas Muslim sudah lama melepaskan ikatan-ikatan ruhiahnya. Hukum-hukum syariah tidak lagi dianggap sakral. Halal-haram tidak lagi menjadi pedoman. Pahala dan dosa sudah lama ditanggalkan. Yang ada hanyalah manfaat-madarat, untung-rugi, dan siapa mendapat apa.

Tidak aneh jika di tingkat elit, misalnya, koalisi antartokoh dan antarparpol pijakannya bukan lagi agama/ideologi, tetapi sekadar bagi-bagi kue kekuasaan. Itu berlaku baik bagi tokoh/parpol sekular ataupun tokoh/parpol Islam. Di tingkat akar rumput tak jauh beda. Saat mereka dihadapkan pada Pemilu, misalnya, pertimbangan hal-haram sudah lama dicampakkan.

Baik elit politik maupun masyarakat secara umum juga seolah tidak paham, bahwa kepemimpinan selalu terkait dengan dua hal: pemimpin dan sistem yang digunakan untuk memimpin. Sayangnya, karena kesadaran politik umat yang rendah, mereka tidak bisa menangkap hal ini. Sekularisme sukses membius mereka untuk melupakan segala hal yang berbau kritikan dan gugatan terhadap sistem yang ada. Mereka lalu digiring ke alam bawah sadar, bahwa yang dibutuhkan sekarang cukup pergantian pemimpin.

Terkait dengan itu, Pemilu Presiden sebentar lagi digelar. Dengan menganggap kepemimpinan hanya menyangkut sosok pemimpin, masyarakat lagi-lagi bakal memilih para penguasa sekular; para penguasa yang tidak akan mau menerapkan syariah Islam. Jelas, karena ketiga pasangan calon presiden-wapres yang ada tidak satu pun yang mengusung syariah Islam. Haruskah hal ini setiap kali berulang?

Tentu tidak! Saatnya umat bangkit! Saatnya umat sadar, bahwa hanya kepemimpinan Islamlah (baik menyangkut sosok maupun sistemnya) yang bakal mewujudkan setiap harapan.

Itulah tema utama al-Wa’ie edisi kali ini. Selamat membaca!

Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Selanjutnya kalo mau baca terus - Haram Memilih Pemimpin Sekular (Cover)


Menghidari Sikap Angkuh Dan Sombong

⊆ Sabtu, Juni 06, 2009 by Abu Jundan | ˜ 1 komentar »

Sikap angkuh dan sombong dapat menimpa siapa saja: saya, anda, kita, dia dan mereka. Sekali lagi, dapat menimpa siapa saja. Ungkapan seperti ‘kalau bukan saya, mana mungkin bisa!’, ‘Untung saja ada saya kalau tidak wah bahaya..’, ‘saya ini orang terkenal lho!’ dan ‘ah, dia kan ngajinya juga baru kemaren sore, sedangkan saya lulusan perguruan tinggi agama’ dan sejumlah uangkapan yang lain, merupakan indikasi sikap kesombongan. Untuk menjinakkannya, perlu menempuh beberapa hal. Antara lain sebagai berikut:
1. Senantiasa mengingat dan menanamkan keyakinan bahwa sombong dan ujub itu dosa. Bukan orang lain yang akan merasakan balasan buruknya dari Allah melainkan diri sendiri
2. Yakinlah, kesombongan tidak akan menambah apapun selain kerugian. Tidak ada orang yang suka siapapun yang angkuh dan sombong. Sama seperti anda dan saya. Sebenarnya, seseorang yang sombong juga tidak suka bila ada orang lain berlaku sombong didepannya. Dia pun akan mengatakan “sombong amat” padahal, apda saat yang sama ia tidak sabar aklau dirinya juga menunjukkan sikap sombong, mengapa ia tidak katakan pada dirinya sendiri ‘Sombong amat kau!”
3. Sering-seringlah mengingat kelemahan diri sendiri. Pada berbagai kesempatan –santai, saat istirahat, ebngong di kendaraan, sejenak menjelang tidur, atau kapan saja—cobalah memikirkan kelemahan kita dibandingkan dengan orang lain. Dengan mengetahui kelemahan, insyaAllah akan muncul sikap rendah hati (tawadlu’). Sebaliknya, tanpa mengetahui kelemahan, seseorang akan merasa dirinyalah yang paling segala-galanya. Orang sunda menyebutnya ‘asa aing pangdadalina!’ (merasa dirinya paling gagah laksana burung garuda). Hal ini tida berarti jangan mengetahui kelebihan diri sendiri. Tidak seperti itu ! memahami potensi dan keunggulan diri sendiri amatlah penting. Namun mangetahui keunggulan diri sendiri tersebut jangan sampai melahirkan sikap menganggap rendah orang lain. Sebab, setiap kelebihan yang Anda miliki hanyalah sebuah kemahalemahan manusia bila dibandingkan dengan kesegalamahaan Allah Dzat maha Kuasa. Dan setiap Anda memiliki kelebihan dalam perkara yang merupakan kelemahan Anda.
4. Seperti telah disebutkan, memelihara sifat sombong berarti membangun benteng penghalang datangnya kebenaran. Dengan adanya sombong, seseorang cenderung menolak kebenaran sekalipun telah jelas didepan mata. Padahal, menolak kebenaran berarti mengunci gerbang perubahan kearah kebaikan yang bermuara kepada kebahagiaan. Konsekwensinya, kebahagiaan dunia dan akhirat, bila demikian, hanyalah sebuah angan-angan hampa.
5. Bila Anda sering melayat orang yang emninggal dunia, jangan hentikan kebiasaan itu! Selain sebagai pemenuhan atas perintah Allah swt, melayat itu juga dapat Anda gunakan sebagai perenungan. Saat melayat, cobalah sekali-kali singkap kain penutup wajahnya. Nampaklah wajah pucat pasi dengan mata terpejam, bibir rapat tertutup. Badan terkujur membeku, tangan terlipat kaku. Tidak dapat berbuat apa-apa. Padahal, teman atau tetangga Anda itu mungkin saja seorang jutawan, atau barangkali wartawan senior, boleh ajdi dia itu orang yang popularitasnya luar biasa, mantan penguasa. Namun, kelebihan apapun tidak berati apa-apa saat itu. Smeuanya serba kecil dihadapan Allah Rabbul ‘alamin. Bila seperti ini realitasnya, apa lagi alasan untuk bersombong diri?!
6. Setiap kali muncul keinginan untuk sombong atau membanggakan diri, segeralah mohon ampunan kepada Allah Dzat Pemutar balik Hati. Berlindunglah dari kesombongan, dan berdo’alah kepada Allah! Mudah-mudahan Allah swt mengabulkan.

Akhirnya, mulai detik ini benih-benih kesombongan tidak boleh ada dalam diri kita, apalagi sebagai pengembandakwah. Kesombongan dan keangkuhan merupakan indikasi kelemahan diri sendiri. Kesombongan dan keangkuhan merupakan perbuatan yang jauh dari simpatik. Akibatnya, orang yang didakwahi justru menyingkir dari kita. Ini kalau bangga terhadap diri sendiri berkenaan dengan perkara-perkara yang boleh jadi memang benar-benar ada dalam diri kita. Tetapi, bila memuji diri sendiri, merasa lebih tinggi, dan merendahkan orang lain itu menyangkut perkara yang tidak ada pada diri kita maka, sesungguhnya hal ini merupakan indikasi kemunafikan. Tidak mau menerima diri sendiri sebagaimana apa adanya. Bahkan merupakan keengganan menghadapi dan menerima kebenaran. Dahulu, iblis enggan tunduk kepada Allah swt karena kesombonganya. Jadi sombong atau ujub? No way!
Selanjutnya kalo mau baca terus - Menghidari Sikap Angkuh Dan Sombong


ABU JUNDAN ABU JUNDAN